PERCOBAAN
VII
PERBANDINGAN
SENYAWA KOVALEN DAN IONIK
Nama :
Kevin Aldi Saputra
Nim : F1E223041
Prodi : TEKNIK ELEKTRO
Hari
atau tanggal : 17-11-2023
Kelompok : VI (ENAM)
I.
TUJUAN
1. Dapat
Mengenal perbedaan antara senyawa kovalen dan ionik
2. Dapat
Mempelajari jenis ikatan dan struktur molekul yang mempengaruhi senyawa
langsung
3. Dapat
Membandingkan sifat fisis dan kimia beberapa pasang isomer
4. Dapat
Mempersiapkan diri untuk memasuki praktikum kimia organik
II.
LANDASAN TEORI
Perbedaan fisik yang paling
mencolok antara senyawa kovalen ionik terdapat padatitik leleh,kelarutan, dan
hantaran listriknya. Ketiga perbedaan ini umumnya disebabkan
oleh kekuatan ikatan ionik yang lebih besar daripada ikatan kovalen. Senyawa
kovalen adalah senyawa yang terbentuk dari ikatan kovalen, yaitu ikatan yang
terjadi karena adanya penjajaran elektron antara dua atom atau lebih. Senyawa
kovalen biasanya terdiri dari unsur-unsur non-logam, seperti hidrogen, oksigen,
karbon, nitrogen, dan belerang. Senyawa kovalen memiliki sifat-sifat khas,
seperti titik leleh dan titik didih rendah, tidak menghantarkan listrik, dan
kelarutan tergantung pada polaritas molekul(Pertiwi
et al. 2016).
Ionik adalah kata yang berhubungan
dengan ion, yaitu partikel bermuatan listrik yang terbentuk karena perpindahan
elektron antara atom-atom. Ionik juga dapat merujuk pada jenis ikatan kimia
yang terjadi karena adanya tarik-menarik antara ion positif dan ion negatif.
Senyawa yang memiliki ikatan ionik disebut senyawa ionik. Contoh senyawa ionik
adalah garam (NaCl), kapur (CaCO3), dan soda kue (NaHCO3).
Senyawa ionik memiliki sifat-sifat khas, seperti titik leleh dan titik didih
tinggi, menghantarkan listrik dalam fase cair atau larutan, dan larut dalam
pelarut polar seperti air. (Apriani
et al. 2021).
Senyawa kovalen terbentuk dari dua
atau lebih atom non-logam yang berbagi elektron valensi untuk mencapai
konfigurasi elektron yang stabil seperti gas mulia. Contoh atom non-logam yang
dapat membentuk senyawa kovalen adalah hidrogen, karbon, nitrogen, oksigen,
klorin, dan lain-lain. Contoh senyawa kovalen yang umum adalah air (H2O),
metana (CH4), amonia (NH3), karbon dioksida (CO2), dan hidrogen klorida (HCl).
Senyawa kovalen memiliki beberapa sifat khas, seperti titik didih dan titik
leleh yang rendah, tidak dapat menghantarkan listrik, dan larut dalam pelarut
non-polar. Senyawa kovalen dapat dibedakan menjadi kovalen polar dan kovalen
non-polar, tergantung pada perbedaan keelektronegatifan antara atom-atom yang
berikatan. Kovalen polar terjadi ketika atom-atom yang berikatan memiliki
perbedaan keelektronegatifan yang besar, sehingga elektron-elektron yang
berbagi tidak seimbang dan menghasilkan muatan parsial pada atom-atom tersebut.
Contoh kovalen polar adalah H2O, NH3, dan HCl. Kovalen non-polar terjadi ketika
atom-atom yang berikatan memiliki perbedaan keelektronegatifan yang kecil atau
sama, sehingga elektron-elektron yang berbagi seimbang dan tidak menghasilkan
muatan pada atom-atom tersebut(Abdassah,
2017).
III. ALAT DAN BAHAN
3.1 ALAT
Adapun alat yang di perlukan sebagai berikut :
1.
Tabung kapiler
2.
Termometer
3.
Tabung reaksi
4.
Sudip
5.
Bunsen
3.2 BAHAN
Adapun bahan yang di perlukan sebagai berikut :
1. NaCl
2. KI
3. MgSO4
4. (CH3)2CHOH
5. C10H8
6. C6H4Cl2
7. CaCl4
8. Naftalen
9. P-dikloro benzena
10. Logam natrium
11. Isopropil alkohol
12. N-heksana
13. Siklo heksana
14. n-dekana
15. n-dekana
16. t-butil alkohol
17. 0- dikloro benzena
18. Air
19. Eter
IV.
PEMBAHASAN
Dalam percobaan ini dilakukan
pengujian perbandingan titik leleh, kelarutan, dan daya hantar listrik, untuk
dapat membandingkan perbandingan sifat senyawa ionik dan senyawa kovalen. Dalam
menentukan suatu senyawa tersebut senyawa ionik ataupun kovalen, kita tidak
bisa hanya dengan melihat salah satu sifatnya saja, tetapi kita juga harus
melihat keseluruhan dari sifat – sifat tersebut, Karena ada sebagian sifat dari
senyawa ionik yang dimiliki senyawa kovalen, agar kita dapat membedakan kedua
senyawa tersebut, kita melakukan percobaan di bawah ini :
4.1 Perbandingan titik leleh
Praktikum kali ini kita melakukan percobaan
untuk mengetahui perbandingan sifat senyawa ion dan senyawa kovalen. Disini
kita menggunakan beberapa bahan, diantaranya yaitu urea, naftalena, NaCl, KI,
MgSO4 dan Isopropil alkohol. Disini kita akan melakukan beberapa percobaan
untuk mengetahui kelarutan , titik leleh, dan daya hantar listrik dari berbagai
macam tersebut dan kita dapat membandingkan atara senyawa kovalen yang terdiri
dari isopropil alkohol dan naftalen. Kemudian untuk senyawa ion yaitu urea, NaCl,
MgSO4, KI. Secara
umum, senyawa ionik memiliki titik leleh yang lebih tinggi daripada senyawa
kovalen, karena ikatan ionik yang terbentuk antara atom-atom yang berbeda
muatan lebih kuat daripada ikatan kovalen yang terbentuk antara atom-atom yang
berbagi elektron. Untuk memutuskan ikatan ionik, dibutuhkan energi yang lebih
besar daripada ikatan kovalen. Oleh karena itu, senyawa ionik memerlukan suhu
yang lebih tinggi untuk meleleh daripada senyawa kovalen.
Senyawa kovalen, dalam bentuk
padat, cenderung membentuk kisi yang kurang teratur, dengan interaksi
antarmolekul yang lebih lemah. Namun, ada juga senyawa kovalen yang
memiliki titik leleh yang tinggi, seperti intan, grafit, dan silikon. Dari
hasil percobaan perbandingan titik leleh senyawa kovalen, dengan memanaskan
senyawa seperti urea dan naftalena, maka didapatkan beberapa perbedaan pada
perbandingan titik leleh, sehingga dari nilai-nilai tersebut didapatkan kisaran
titik leleh Naftalena antara 70,3°C. Namun dengan literatur yang saya ambil
dari internet (John 2009) titik lelehnya jauh berbeda yaitu 88oC.
C. Perbedaan perbandingan
titik leleh hasil percobaan dengan literatur titik leleh disebabkan oleh
beberapa faktor diantaranya yaitu ketidaktepatan penelitian yang dilakukan saat
percobaan kemudian ketidaktepatan data hasil percobaan, dan pada saat pencucian
tabung reaksi yang akan digunakan masih ada zat yang tersisa (belum benar-benar
bersih) dan kering. Seharusnya praktikan harus teliti dalam hal kebersihan
karena sangat berpengaruh terhadap percobaan.
Titik leleh senyawa ion jauh lebih
tinggi jika dibandingkan dengan senyawa kovalen, hal ini disebabkan oleh ikatan
antara ion-ion dengan gaya elektrostatis sangat kuat dengan susunan kristal
yang tertentu dan teratur. Data yang telah didapatkan dari literatur (Brady
1999) tentang titik leleh senyawa ion adalah sebagai berikut : NaCl mencair
pada kisaran suhu 801oC sampai 804oC. KI meleleh pada
suhu 681oC. MgSO4 meleleh pada suhu 1124oC.
Dari percobaan ini kita dapat
mengetahui bahwa ikatan molekul pada ikatan kovalen lebih lemah dibandingkan
ikatan molekul pada ikatan ionik. Hal ini ditinjau dari titik leleh ikatan
kovalen yang lebih kecil daripada titik leleh pada ikatan ionik. Karena titik
leleh ikatan kovalen relatif kecil maka atom-atom yang saling berikatan mudah
lepas atau terurai, dapat dikatakan bahwa ikatan molekulnya lemah sehingga
mudah meleleh. Sebaliknya ikatan ion yang memiliki titik leleh yang tinggi
dikarenakan ikatan antar atom pada ikatan ion sangat kuat sehingga sulit untuk
diuraikan atau dilelehkan.
4.2 Perbandingan Kelarutan
Kelarutan adalah kemampuan suatu
zat untuk larut dalam pelarut tertentu pada kondisi tertentu. Perbandingan
kelarutan antara senyawa kovalen dan ionik mencerminkan perbedaan sifat kimia
dan ikatan antarpartikel pada senyawa tersebut. Pada percobaan ini selain untuk
mengetahui titik leleh juga dilakukan percobaan untuk mengetahui kelarutannya.
Dalam hal ini kita menggunakan dua macam pelarut yaitu air yang memiliki sifat
polar dan pelarut CCl4 yang merupakan pelarut non polar.
Pertama-tama kita ambil beberapa banyak urea
kira-kira seujung sudip dimasukkan dalam tabung reaksi yang sudah berisi
pelarut. Tabung reaksi pertama berisi air dan tabung reaksi kedua berisi CCl4.
Kemudian di kocong perlahan sampai terjadi perubahan di kedua tabung reaksi.
Catat pengamatan di laporan sementara. Kemudian cara yang sama dilakukan juga
untuk bahan-bahan yang lain. Untuk bahan yang sediaannya kristal dilakukan
pengocokan yang seksama dan perlahan hingga beberapa saat karena sediaannya
kristal jadi lebih sukar cepat larut dari pada sediaan yang serbuk. Dari data
perbandingan kelarutan antara senyawa ion dengan senyawa kovalen diperoleh
bahwa urea larut dalam pelarutnya (air) tetapi dalam senyawa CCl4 tidak larut.
Begitu pula untuk senyawa-senyawa NaCl, KI, MgSO4 , dan Isopropil Alkohol yang
juga larut dalam air dan tidak larut dalam senyawa CCl4.
Senyawa yang dapat larut pada
pelarut air maupun karbon tetraklorida disebabkan karena senyawa tersebut
bersifat ionik terhadap pelarutnya dimana pelarut tersebut termasuk dalam
pelarut polar. Sedangkan senyawa yang tidak larut pada pelarut tersebut dikarenakan
senyawa tersebut menjadi bersifat kovalen sehingga sangat sulit untuk senyawa
tersebut berinteraksi dengan pelarut yang sifatnya polar. Walaupun begitu,
tidak semua senyawa kovalen bersifat non polar, ada beberapa senyawa kovalen
yang bersifat polar sehingga mudah larut dalam pelarut polar. Dengan ini dapat
disimpulakan, larut atau tidaknya suatu senyawa tergantung pada sifat dari
senyawa yang akan dilarutkan dengan sifat pelarutnya (polar dan nonpolar).
4.3 Senyawa berantai lurus dan lingkar
Senyawa berantai lurus dan senyawa
berantai lingkar adalah dua kategori struktur molekuler yang dapat ditemui
dalam kimia organik. Perbedaan dalam susunan atom-atom dalam rantai karbon
memainkan peran penting dalam sifat fisik dan kimia dari senyawa-senyawa ini.Senyawa
berantai lurus memiliki rantai karbon yang disusun secara sejajar dan tidak
membentuk cincin. Molekul ini memiliki struktur yang serupa dengan rantai atau
tali, dan atom-atom karbonnya dihubungkan secara linear atau lurus.Contoh
senyawa berantai lurus termasuk etana (C2H6), propana (C3H8), dan butana
(C4H10). Ketiga senyawa ini memiliki rantai karbon yang membentang secara
lurus.Senyawa berantai lurus cenderung lebih reaktif pada ujung rantainya.
Reaksi kimia, seperti substitusi atau pemecahan ikatan, sering terjadi di ujung
rantai.
Senyawa berantai lingkar memiliki
rantai karbon yang membentuk cincin tertutup atau sirkular. Atom karbon di
dalam cincin membentuk ikatan yang kembali pada dirinya sendiri, membentuk
struktur tertutup.Contoh senyawa berantai lingkar termasuk siklopropana (C3H6),
siklobutana (C4H8), dan senyawa aromatik seperti benzena (C6H6). Siklopropana
membentuk cincin tiga atom karbon, sedangkan siklobutana membentuk cincin empat
atom karbon. Benzena memiliki cincin enam atom karbon.Senyawa berantai lingkar
cenderung memiliki titik leleh dan titik didih yang lebih rendah dibandingkan
dengan senyawa berantai lurus dengan jumlah atom karbon yang sama. Ini
disebabkan oleh kestabilan tambahan yang diperoleh dari pembentukan ikatan
cincin. Senyawa berantai lingkar memiliki kestabilan tambahan karena ikatan
kembali di dalam cincin, yang sering disebut sebagai kestabilan cincin. Senyawa
aromatik, seperti benzena, menunjukkan kestabilan tambahan karena adanya ikatan
rangkap resonansi di sepanjang cincin. Senyawa berantai lingkar cenderung
mengalami reaksi kimia di sepanjang cincin dan mungkin kurang reaktif pada
ujung rantainya.
Senyawa yang memiliki rantai lurus
dan rantai lingkar memiliki perbedaan signifikan dalam struktur molekuler dan
sifat-sifat kimia maupun fisik yang dimilikinya. Perbedaan dalam sifat
fisik, reaktivitas, dan kestabilan antara senyawa yang memiliki rantai lurus
dan rantai lingkar dapat diatribusikan pada struktur molekuler yang
mendasarinya. Pengaruh dari struktur ini memainkan peran penting dalam
menentukan perilaku kimia dan properti fisik dari senyawa-senyawa ini.
Ikatan kovalen
yang terbentuk antara atom-atom dalam molekul memainkan peran kunci dalam
menentukan struktur molekuler. Ikatan tunggal, ikatan rangkap dua, atau ikatan
rangkap tiga antara atom-atom karbon dapat menghasilkan struktur rantai yang
berbeda. Distribusi elektron di sekitar atom-atom dalam molekul mempengaruhi
bagaimana atom-atom tersebut membentuk ikatan dan menentukan bentuk rantai.
Gaya tolak-tolak elektron, seperti yang dijelaskan dalam teori VSEPR (Valence
Shell Electron Pair Repulsion), juga berperan dalam menentukan bentuk molekul. Heksana
(C6H14) dan sikloheksana (C6H12) adalah dua senyawa hidrokarbon alifatik yang
sering digunakan sebagai pelarut dalam laboratorium kimia. Keduanya merupakan
isomer, tetapi memiliki struktur molekuler yang berbeda Sikloheksana adalah hidrokarbon siklik yang
memiliki cincin karbon enam. Struktur molekulnya memiliki cincin enam atom
karbon tanpa ikatan rangkap atau substituen. Sikloheksana juga adalah cairan
bening dan tidak berwarna pada suhu kamar.
Seperti
heksana, sikloheksana juga tidak memiliki warna yang khas, dan solusinya yang
murni umumnya tidak berwarna.Sikloheksana memiliki titik didih sekitar 81 °C
dan titik leleh sekitar 6 °C. Berikut ini adalah struktur sikloheksana:

4.4 Isomer
Isomer adalah senyawa
kimia yang memiliki rumus molekuler yang sama, tetapi struktur molekuler atau
pengaturan atom-atomnya berbeda. Dengan kata lain, isomer memiliki jumlah atom
yang sama dari unsur-unsur yang sama, tetapi atom-atom ini disusun dalam urutan
yang berbeda atau memiliki struktur yang berbeda. Konsep isomer sangat penting
dalam kimia organik dan anorganik karena memungkinkan adanya keragaman struktur
molekuler dengan sifat-sifat yang berbeda. Isomer penting karena mampu
memberikan keragaman struktur molekuler, yang pada gilirannya dapat memengaruhi
sifat-sifat kimia dan fisik senyawa. Pemahaman isomer membantu ilmuwan memahami
dan merancang molekul dengan sifat tertentu untuk berbagai aplikasi, mulai dari
industri kimia hingga ilmu kedokteran.
Isomer dengan
struktur yang lebih besar atau molekul yang lebih bercabang biasanya memiliki
titik didih yang lebih rendah karena interaksi antarmolekul yang lebih lemah. Kelarutan
senyawa dalam pelarut dapat dipengaruhi oleh struktur. Senyawa polar cenderung
lebih larut dalam pelarut polar, sedangkan senyawa nonpolar lebih larut dalam
pelarut nonpolar. Isomer yang memiliki gugus fungsi atau ikatan kimia pada
tempat yang berbeda dapat menunjukkan reaktivitas yang berbeda. Gugus fungsi
pada posisi yang berbeda dapat memberikan akses yang berbeda terhadap reagen
dan jalur reaksi yang berbeda.
Penting untuk dicatat
bahwa pengaruh struktur kimia terhadap sifat fisik senyawa adalah hasil dari
interaksi kompleks antara atom-atom dan gugus-gugus dalam molekul. Oleh karena
itu, pemahaman struktur kimia menjadi kunci untuk meramalkan dan memahami sifat-sifat
fisik senyawa kimia. Percobaan ini dapat membantu mengidentifikasi sifat-sifat
kimia yang membedakan senyawa kovalen dan ionik melalui reaksi natrium dengan
sampel yang berbeda. Hasil pengamatan, seperti pembentukan gas hidrogen atau
konduktivitas larutan, dapat memberikan petunjuk tentang apakah senyawa
tersebut bersifat ionik atau kovalen.
selain natrium (Na),
Anda dapat menggunakan logam lain dalam percobaan perbandingan senyawa kovalen
dan ionik. Beberapa logam memiliki tingkat reaktivitas yang berbeda terhadap
air, dan pemilihan logam dapat memberikan kontrast yang menarik dalam percobaan.
Berikut adalah beberapa contoh logam lain yang dapat digunakan:
1. Kalium (K):
- Kalium
adalah logam alkali serupa dengan natrium dan juga sangat reaktif terhadap
air. Reaksi kalium dengan air serupa dengan reaksi natrium, membentuk
hidroksida kalium (KOH) dan gas hidrogen (H2).
2. Litium (Li):
- Litium
adalah logam alkali yang kurang reaktif dibandingkan dengan natrium dan
kalium. Reaksinya dengan air lebih lambat, tetapi tetap membentuk
hidroksida litium (LiOH) dan gas hidrogen (H2).
3. Kalsium (Ca):
- Kalsium
adalah logam alkali tanah yang lebih reaktif terhadap air daripada
natrium. Reaksinya dengan air menghasilkan hidroksida kalsium (Ca(OH)2)
dan gas hidrogen (H2).
4. Logam Alkali
Tanah Lainnya:
- Berbagai
logam alkali tanah seperti magnesium (Mg) dan stronsium (Sr) juga dapat
digunakan untuk percobaan ini dengan tingkat reaktivitas yang berbeda.
5. Logam Alkaline Tanah
Lainnya:
- Logam
alkaline earth lainnya seperti bari (Ba) dapat memberikan variasi
reaktivitas yang menarik dalam eksperimen ini.
Tujuan percobaan
kecepatan terbakar dalam senyawa kovalen dan ionik adalah untuk membandingkan
laju reaksi pembakaran atau pembakaran dari senyawa-senyawa tersebut. Dalam
konteks senyawa organik atau hidrokarbon, kecepatan terbakar mengukur seberapa
cepat senyawa tersebut bereaksi dengan oksigen untuk menghasilkan produk
pembakaran seperti karbon dioksida (CO2) dan air (H2O).
Percobaan ini
bertujuan untuk mengevaluasi dan membandingkan sifat-sifat pembakaran antara
senyawa-senyawa yang bersifat kovalen (seperti hidrokarbon organik) dan
senyawa-senyawa yang bersifat ionik (seperti garam anorganik). Laju pembakaran
dapat memberikan wawasan tentang energi yang dilepaskan selama reaksi dan
ketersediaan oksigen untuk reaksi tersebut.
Dengan membandingkan
kecepatan terbakar antara senyawa kovalen dan ionik, peneliti dapat mendapatkan
informasi tentang reaktivitas relatif dan karakteristik pembakaran yang mungkin
berbeda antara kedua jenis senyawa tersebut. Ini dapat memberikan pemahaman
lebih lanjut tentang sifat kimia dari senyawa-senyawa tersebut dan potensial
aplikasinya dalam berbagai konteks.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdassah, Marline. 2017. “Nanopartikel
Dengan Gelasi Ionik.” Jurnal Farmaka 15 (1): 45–52.
Apriani, Ririn, Andi Ifriani Harun*,
Erlina Erlina, Rachmat Sahputra, and Maria Ulfah. 2021. “Pengembangan Modul
Berbasis Multipel Representasi Dengan Bantuan Teknologi Augmented Reality Untuk
Membantu Siswa Memahami Konsep Ikatan Kimia.” Jurnal IPA & Pembelajaran
IPA 5 (4): 305–30. https://doi.org/10.24815/jipi.v5i4.23260.
Pertiwi, Binar Ari, Rudiana Agustini,
Jurusan Kimia, Fakultas Matematika, Dan Ilmu, and Pengetahuan Alam. 2016. “Pengembangan
Lembar Kegiatan Siswa (Lks) Berorientasi Problem Based Learning Pada Materi
Senyawa Kovalen Polar Dan Nonpolar Untuk Melatihkan Keterampilan Berpikir
Tingkat Tinggi Development of Student Worksheet (Lks) Problem Based Learning
Oriented in Matter of Polar and Nonpolar Covalent Compounds To Train High Level
Thinking Skills.” Unesa Journal of Chemical Education 5 (2): 182–90.
Komentar
Posting Komentar