REAKSI
KIMIA DAN REAKSI REAKSI REDOKS
I.TUJUAN
- Mempelajari Jenis Reaksi Kimia
Secara Sistematis
- Mengamati tanda-tanda
terjadinya reaksi
- Menuliskan persamaan reaksi
dengan benar
- Menyelesaikan persamaan redoks
dari setiap percobaan
II. LANDASAN
TEORI
Reaksi
oksidasi dan reduksi merupakan reaksi yang menggabungkan ion, dalam hal ini
bilangan oksidasi (valensi) spesi-spesi yang bereaksi tidak mengalami
perubahan. Namun, ada beberapa reaksi yang menunjukkan keadaan oksidasi berubah
yang disertai dengan pertukaran elektron antara pereaksi, ini disebut reaksi
oksidasi-reduksi atau disingkat reaksi redoks. Berdasarkan sejarahnya istilah
oksidasi diterapkan untuk proses-proses ketika oksigen diambil oleh suatu zat
dan reduksi dianggap sebagai proses ketika oksigen diambil dari dalam suatu
zat. Kehilangan hidrogen dapat juga disebut sebagai oksidasi dan penangkapan
hidrogen disebut sebagai reduksi. Reaksi-reaksi lain yang tidak melibatkan
oksigen dan hidrogen belum dapat digolongkan sebagai oksidasi dan reduksi
sebelum munculnya definisi umum oksidasi dan reduksi yang didasarkan pada
pelepasan dan pengambilan elektron (Svehla, dkk. 1997: 107).
Reaksi
redoks (reduksi-oksidasi) melibatkan keadaan transfer elektron sehingga akan
terjadi perubahan tingkat atau bilangan oksidasi dari spesies yang berkaitan.
Identifikasi pada tingkat oksidasi atau bilangan oksidasi spesies yang terlibat
dalam reaksi perlu dilakukan untuk mengetahui jumlah elektron yang terlibat.
Secara sederhana, bilangan oksidasi didefinisikan sebagai bilangan positif atau
negatif yang mengarah pada muatan suatu spesies saat elektron-elektron dianggap
terdistribusi pada atom-atom menurut aturan yang sesuai. Aturan distribusi
tersebut yakni secara ionik bagi spesies heteronuklir yang berarti terjadi
perpindahan elektron pada atom yang lebih bersifat elektronegatif dan secara
kovalen murni bagi spesies homonuklir (Sugiyarto, 2004: 111).
Reaksi
oksidasi dalam kimia organik umumnya disebut sebagai penambahan oksigen kedalam
molekul atau lepasnya hidrogen dari suatu molekul. Reaksi reduksi diartikan
sebagai masuknya hidrogen ke dalam molekul organik atau keluarnya oksigen dari
dalam molekul organik. Batasan yang lebih umum pada reaksi oksidasi-reduksi
adalah berdasarkan pemakaian bilangan oksidasi pada atom karbon dengan cara
memasukkan bilangan oksidasi pada keempat ikatannya. Contohnya, atom H yang
berikatan dengan atom C memiliki bilangan oksidasi -1, atom C yang berikatan
dengan atom C memiliki bilangan oksidasi 0, dan atom C jika berikatan tunggal
pada heteroatom seperti oksigen, nitrogen, dan sulfur maka atom C memiliki
bilangan oksidasi +1 (Riswiyanto, 2009: 108).
Oksidasi
dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang menyebabkan hilangnya satu atau
lebih elektron dari dalam zat berupa atom, ion atau molekul. Saat suatu unsur
dioksidasi maka keadaan oksidasinya akan berubah ke harga atau nilai yang lebih
positif. Suatu zat pengoksidasi adalah zat yang memperoleh elektron dan saat
proses itu, zat itu direduksi. Reduksi adalah suatu proses yang mengakibatkan
didapatkannya satu atau lebih elektron oleh zat berupa atom, ion atau molekul.
Saat suatu unsur direduksi, keadaan oksidasi berubah menjadi lebih negatif,
sehingga suatu zat pereduksi adalah zat yang kehilangan elektron dan dalam
proses itu, zat tersebut dioksidasi. Definisi tersebut sangat umum sehingga
dapat berlaku untuk proses dalam zat padat, lelehan atau gas. Proses oksidasi
dan reduksi berlangsung bersamaan karena elektron-elektron yang dilepaskan oleh
sebuah zat harus diambil oleh zat yang lain. Oleh karena itu reaksi
oksidasi-reduksi atau reaksi redoks akan merujuk pada proses-proses yang melibatkan
serah terima muatan (Svehla, dkk. 1997: 108).
Menurut
Sugiyarto (2004: 111) bilangan oksidasi dapat ditentukan berdasarkan aturan
berikut:
1. Bilangan
oksidasi untuk setiap atom unsur adalah nol.
2. Bilangan
oksidasi ion monoatomik adalah sama dengan muatan ion yang bersangkutan.
3. Jumlah
aljabar bilangan oksidasi suatu spesies poliatomik netral adalah nol dam suatu
spesies ion poliatomik sama dengan muatan ion yang bersangkutan.
4. Dalam
suatu senyawa, unsur yang lebih elektronegatif mempunyai bilangan oksidasi
negatif dan unsur yang lebih elektropositif mempunyai bilangan oksidasi
positif.
5. Untuk
suatu senyawa yang dalam molekulnya tersusun lebih dari satu atom yang sama,
dikenal adanya bilangan oksidasi rata-rata maupun bilangan oksidasi individual
bagi masing-masing atom berdasarkan ikatannya. Jadi atom unsur yang sama dalam
satu molekul dapat memiliki tingkat oksidasi yang berbeda dan ini sebagi dampak
dari kedudukan ikatan yang berbeda pula.
Menurut
Sukardjo (1985: 264) Oksidasi adalah reaksi pelepasan elektron dan reduksi
adalah reaksi pengikatan elektron. Contohnya, saat logam Zn dimasukkan kedalam
larutan yang berisi Zn+ terdapat beda potensial antara larutan
dan elektrode, begitupula dengan saat logam inert seperti Pt dimasukkan dalam
larutan yang berisi ion dalam bentuk reduksi dan oksidasinya akan timbul beda
potensial antara larutan dan elektrodenya yang disebut potensial redoks.
Berdasarkan
perkembangannya, reaksi redoks dimulai dari pemahaman batasan yang tradisional
yaitu reaksi oksidasi adalah reaksi pengikatan oksigen atau reaksi pelepasan
hidrogen dan pelepasan elektron sedangkan reaksi reduksi adalah reaksi
pelepasan oksigen atau reaksi pengikatan hidrogen atau pengikatan elektron.
Batasan lain menyebutkan bahwa reaksi oksidasi adalah reaksi penaikan bilangan
oksidasi dan reaksi reduksi adalah reaksi penurunan bilangan oksidasi. Reaksi
reduksi dan reaksi oksidasi berlangsung secara bersamaan yang berarti bahwa ada
spesies yang teroksidasi dan spesies lain tereduksi sehingga penamaan yang
lebih tepat adalah reaksi reduksi-oksidasi atau reaksi redoks. Contohnya, saat
sebatang tembaga dicelupkan ke dalam larutan perak nitrat maka lapisan putih
mengkilat akan muncul pada permukaan batang tembaga dan larutan berubah menjadi
biru. Dalam hal ini bilangan oksidasi tembaga meningkat dari 0 menjadi +2 dan
bilangan oksidasi perak turun dari +1 menjadi 0, jadi tembaga mengalami oksidasi
dan perak mengalami reduksi (Sugiyarto, 2004: 112-113).
Menurut
Svehla, dkk (1997: 110-111) zat-zat yang terlibat dalam
kesetimbangan kimia dalam reaksi setengah sel membentuk sistem
redoks. Sistem redoks dapat dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu:
1. Sistem
redoks biasa adalah sistem yang menunjukkan bahwa dalam oksidasi dan reduksi
zat yang dipertukarnya hanya elektron.
2. Sistem
redoks dan asam basa gabungan adalah sistem yang tidak hanya melibatkan
pertukaran elektron tetapi juga melibatkan pertukaran proton seperti dalam
sistem asam-basa. Sistem ini adalah gabungan dari tahap redoks dan
asam-basa.
Potensial
reduksi berkaitan dengan sel elektrokimia. Suatu sel elektrokimia terdiri atas
dua eletrode yang berupa dua setengah sel, yakni setengah sel reduksi dan
setengah sel oksidasi yang memiliki nilai potensial reduksi standar bagi
masing-masing elektrodenya. Nilai potensial reaksi redoks yang terjadi disebut
sabagai potensial sel yang menunjukkan perbedaan voltase antara kedua elektrode
yang sering disebut electromotive force (emf) sel atau Esel.
Jadi, saat
satu sel dibangung oleh Cu(S)|Cu2+(aq) ||
Ag+(aq)|Ag(s), maka sel ini mempunyai nilai
potensia standar (Eºsel) sebesar +0,46V. Cara penulisan lambang sel
ini adalah anode || katode, simbol || disebut jembatan garam penghubung, |
disebut tanda pembatas fase yang berbeda dan tanda koma digunakan jika fasenya
sama. Anode tersusun oleh eletrode diikuti elektrolitnya dan katode tersusun
oleh elektrolit diikuti elektrodenya (Sugiyarto, 2004: 117).
Proses
elektrokimia tersebut mengakibatkan logam mengalami kemerosotan atau kerusakan
sifat logam yang disebut sebagai korosi. Korosi berasal dari bahasa latin
“corrodere” yang artinya perusakan logam atau berkarat akibat lingkungannya.
Korosi adalah suatu reaksi reduksi oksidasi antara logam dengan berbagai zat
yang ada dilingkungannya sehingga akan menghasilkan senyawa-senyawa yang tidak
dikehendaki (Hadi, 2015: 74).
Menurut
Sukardjo (1985: 267-268) terdapat beberapa cara penetapan potensial redoks,
yaitu:
1. Cara
potensiometri
Potensial
redoks ditetapkan dengan memasukkan elektrode Pt ke dalam larutan dan mengukur
potensialnya terhadap elektrode pembanding, seperti elektrode kalomel. Cara ini
memberikan hasil yang baik untuk sistem redoks anorganik. Cara ini digunakan
juga pada titrasi potensiometri oksidasi reduksi dan dilakukan untuk zat-zat
organik dan cairan biologi. Umumnya oksigen udara dapat bereaksi dengan
beberapa sistem redoks, hal ini dapat dicegah dengan mengukur potensialnya
dalam bejana tertutup berisi gas inert, seperti nitrogen yang dimasukkan
kedalam larutan.
2. Cara
kalorimetri
Cara
ini menggunakan indikator redoks dan diupayakan agar potensial
redoks dan
indikator berdekatan dengan potensial redoks larutan yang diselidiki. Perubahan
warna indikator harus tajam dan tidak dipengaruhi oleh warna larutan yang
ditentukan. Warna larutan yang diperoleh dibandingkan dengan warna-warna
standar yang telah dibuat, warna yang cocok menunjukkan potensial redoks dari
larutan. Cara ini banyak dipakai untuk menentukan potensial redoks sel-sel
hidup karena cara potensiometri tidak memungkinkan. Indikator redoks
disuntikkan kedalam sel atau dibiarkan berdifusi melalui dinding sel.
Reaksi
reduksi oksidasi ada kaitannya dengan anoda dan katoda. Saat di anoda akan
terjadi reaksi oksidasi terhadap anion (ion negatif). Contohnya, anoda yang
terbuat dari logam seperti aluminium akan mengalami reaksi oksidasi membentuk
Al3+. Gas hidrogen dari katoda membantu flok Al(OH)3 dalam
larutan yang terangkat ke permukaan (Setianingrum, dkk. 2016: 96).
Sebelum
teori reaksi redoks dirumuskan, sel galvani telah dipelajari secara meluas
sehingga penafsiran reaksi redoks secara tradisional di dasarkan pada gejala
yang berlangsung dalam sel galvani. Berdasarkan prinsip kerja sel
volta/galvani, dua elektrode berbeda yang dimasukkan ke dalam larutan
elektrolit akan menghsilkan energi listrik sebagai hasil reaksi kimia yang
berlangsung spontan, yakni reaksi redoks. Elektron akan terus berpindah pada
proses ini dari anode (proses oksidasi) menuju katode (proses reduksi) dan
dalam larutan elektrolit, muatan diangkut oleh kation ke katode dan oleh anion
ke anode. Reaksi ini akan terus berulang hingga menghasilkan energi listrik
(Atina, 2015: 38).
Selain
reaksi reduksi oksidasi, terdapat pula istilah reaksi autoredoks. Salah satu
contoh reaksi autoredoks adalah hujan asam yang terjadi dalam kehidupan.
Penyebab hujan asam adalah gas NO2 yang berasal dari sisa
pembakaran asap pabrik, pembangkit tenaga listrik yang menggunakan batu bara
dan sisa pembungan dari bahan bakar bermotor (Nugraha, dkk. 2013: 30).
III.
Prosedur Percobaan
3.1 Alat
dan Bahan
A. Alat
- Tabung reaksi
- Rak tabung reaksi
- Sudip
- Bunsen
- Krus
- Pipet tetes
- Lampu spirtus
- Lemari asam
- Gelas ukur
B.
Bahan
- Serbuk Mg
- Serbuk Cu
- Kristal CuSo4.5H2O
- AgNO3 0,01
- HCl 0,1 M, 6 M
- Hg (NO3)2 0,1 M
- Al (NO3)2 0,1 M
- Kl 0,1 M
- HNO3 0,1 M
- H2SO4 0,1 M, 6 M, 1 M
- H3PO4 0,1 M
- Indikator Fenolfertalin
- NaOH 0,1 M, 10 M
- KMNO4 0,1 M
- Na2C2O4 0,1 M
- NaHSO3
- CuSO4 0,5 M
- Logam Zn
- ZnSO4 0,5 M
- Pb (NO3)2 0,5 M
- NaNO3 0,5 M
- H2O2 0,1 M
- Larutan kanji
- FeCl3 0,1 M
3.2 Skema
Kerja
A. Reaksi
Penggabungan
Mg
- Disediakan cawan trus
- Dimasukkan seujung sudip Mg
kedalam cawan
- Dibakar diatas api bunsen
- Diamati
- Dicatat hasilnya
B. Reaksi
Penguraian
Kristal
CUSO4.5H2O
- Disediakan tabung reaksi
- Dimasukkan seujung sudip
Kristal CUSO4.5H20 ke dalam tabung reaksi
- Dipanaskan
- Diamati
- Dicatat hasilnya
C. Reaksi
Penggantian Tunggal
AgNO3
- Disediakan tabung reaksi
- Diisi dengan 1 ml larutan
AgNO3 0,01 M
- Ditambahkan 0,1 g serbuk Cu
- Dikocok tabung reaksi
- Dicatat hasilnya
HCl
- Disediakan tabung reaksi
- Diisi 1 ml larutan HCl 0,1 M
- Ditambahkan 0,1 g serbuk Mg
- Diamati
- Dicatatat hasilnya
D. Reaksi
Penggantian Rangkap
-
Menggunakan Kl
AgNO3,
Hg(NO3)2, Al (NO3)2
- Disediakan 3 tabung reaksi (I,
II dan III)
- Diisi masing-masing tabung 1
ml AgNO3 0,01 M, 1 ml Hg (NO3)2 0,1 M dan 1 ml Al (NO3)2 0,1 M
- Ditambahkan 1 ml Kl 0,1 m ke
dalam masing-masing tabung reaksi
- Dikocok tabung IV dan VI
- Diamati
- Dicatat hasilnya
-
Menggunakan Na3PO4
AgNO3,
Hg(NO3)2, Al (NO3)2
- Disediakan tabung reaksi (IV,
V. dan VI)
- Diisi masing-masing tabung 1
ml AgNO3 0,01 M, 1 ml Hg(NO3)2 0,1 M dan 1 ml Hg(NO3)2 0,1 M
- Ditambahkan 1 ml Na3PO4 1M ke
dalam masing tabung
- Dikocok tabungan IV dan VI
- Diamati
- Dicatat hasilnya
E. Reaksi
Netralisasi
HNO3,
H2SO4, H3PO4
- Disediakan tabung reaksi (VII,
VIII dan IX)
- Diisi masing-masing 1 ml HNO3
0,1 M, 1 ml H2SO4 0,1 M dan 1 ml H2PO4 0,1 M
- Ditambahkan 1 tetes indikator
fenolflatein ke masing-masing tabung
- Diteteskan larutan NaOH 0,1 M
ke masing-masing tabung reaksi sampai terjadi perubahan warna
- Diamati
- Dicatat jumlah tetesan NaOH
yang digunakan
F. Reaksi
Redoks Serta Perubahan Warnanya
- tabung
reaksi X
H2SO4
- Disediakan tabung reaksi
- Diisi 0,5 ml H2SO4 6M
- Ditambahkan 0,5 KMNO4 0,1 M
- Diteteskan Na2C2O4 0,1 M
sampai berubah warna
- Dicatat jumlah tetes Na2CO2O4
yang digunakan
- tabung
reaksi XI
NaHSO4
- Disediakan tabung reaksi dan
diisi 3 ml NaHSO4 0,1 M dan 1 ml NaOH 10 M
- Dikocok tabung reaksi
- Diteteskan larutan KMNO4 0,1 M
kedalam tabung reaksi
- Diamati setiap tetes
penambahan sampai terjadi perubahan warna yang stabil
- Dicatat jumlah tetes KMNO4 0,1
M yang digunakan
- tabung
reaksi XII
HCl
- Disiapkan tabung reaksi
- Diisi 1ml HCl 6 M
- Ditambahkan 1 g kristal KMNO4
- Dipanaskan dilemari asam
- Diamati
- Dipanaskan dilemari asam
- Diamati
- Dicatat hasil
G. Reaksi
Reedoks
- CUSO4
- Disiapapun tabung reaksi
- Dimasukkan 2 ml CuSO4 0,5 M
kedalam salah satu tabung reaksi menggunakan pipet
- Ditambahkan sepotomg logam zn
- Ditambahkan sepotong LOGAM zn
- Dicatat pengamatan
- Dimasukkan 2NSO4 0,5 M kedalam
tabung reaksi
- Ditambahkan sepotong logam Cu
- Diamati
- Dicatat hasilnya
-Pb(NO3)2,
NaNO3
- Disiapkan 2 tabung
reaksi
- Dimasukkan larutan pb(NO3)2
0,5 M dan NaNO3 0,5 kedalam masing-masing tabung.
- Ditambahkan sedikit serbuk
logam Mg
- Dicatat orde logam menurut
reaktivitas dan tulis persamaan reaksinya
-H2O2
- Disediakan tabung reaksi
- Dimasukkan 5 tetes H2O2 0,1 M
- Ditambahkan 8 tetes H2SO4 1M
dan 10 tetes Kl 0,1 M dan 1 tetes larutan kanji
- Dicatat hasilnya
-FeCl3
- Disediakan tabung reaksi
- Dimasukkan tetes FeCl3 0,1 M
- Ditambahkan 10 tetes H2SO4 1M
dan 10 tetes Kl 0,1 M
- Dipanaskan selama 2 menit
- Ditambahkan 1 tetes larutan
kanji
- Diamati yang terjadi
- Dicatat hasilnya
IV. Hasil
dan Pembahasaan
- Tabung
Reaksi X
Gambar 1.
pada saat tabung diisi dengan larutan H2SO4 sebanyak 0,5 ml
Gambar 2
tambahkan dengan KMNO4 sebanyak 0,5 ml pada saat pencampuran, warna mengikuti
KMNO4 yang berwarna ungu.
Gambar 3
ketika dicampurkan dengan Na2C2O4 dengan tetes demi tetes terjadi perubahan
warna pada tetes ke 26 menjadi warna bening (tidak berbau).
Gambar 4
merupakan hasil pencampuran antara larutan H2SO4, KMNO4, dan Na2C2O4 yang
menghasilkan warna akhir pada larutan menjadi bening tetapi dibawahnya masih
terdapat endapan.
- Tabung
Reaksi XI
Gambar 1
diambi 3 ml NaHSO4 yang berwarna bening sebanyak 0,1 M teteskan kedalam
tabung reaksi
Gambar 2
tambahkan 1 ml NaOH yang berwarna bening 10 M kedalam tabung reaksi, dikocok
tabung reaksi agar semua larutan tercampur.
Ganbar 3
teteskan sedikit demi sedikit larutan KMNO4 0,1 M yang berwarna ungu
kedalam tabung reaksi. pada tetes pertama sudah terjadi reaksi pencampuran
menjadi warna hijau tua tetapi belum mencapai seperti yang diinginkan. pada
saat tetes ke 60 sudah mencapai seperti yang diinginkan, dimana larutan pada
tabung reaksi terbagi menjadi 3 warna yang berbeda (bawah berwarna bening,
tengan berwarna hijau, dan atas berwarna ungu).
Gambar 4
setelah tercampurnya 3 fasa kemudian dikocok maka akan terjadi perubahan warna
menjadi hijau dan terjadi pengendapan berwarna coklat setelah dikocok lagi
perubahan warna menjadi hijau pekat dan terjadi pengendapan warna colat.
- Tabung
Reaksi XII
Gambar 1
timbang kristal sebanyak 1 gram, didalam tabung reaksi masukkan HCl sebanyak 1
ml
Gambar 2
campurkan kristal kedalam tabung reaksi yang berisi HCl
Gambar 3
masukkan kedalam lemari asam, amati hingga terjadi pengendapan
V.
Kesimpulan dan Saran
5.1
kesimpulan
1.Jenis-jenis reaksi kimia
a. penggabungan/ sintesis : A+Z_AZ
b. penguraian
: AZ_A+Z
c. penggantian tunggal : A+BZ_AZ+B
d. penggantian ganda : AX+BZ_AZ+BX
e. netralisasi
: HX+BOH_BX+HOH
2. Tanda-tanda terjadi reaksi yaitu
a. endapan
b. timbulnya gelembung/ gas
c. perubahan suhu
d. perubahan warna
3. Persamaan reaksi dapat diselesaikan dengan mengembangkan jumlah zat
sebelum dan sesudah
reaksi
4. Reaksi redoks dapat disetarakan dengan metode setengah reaksi dari
persamaan bilangan oksidasi. Reaksi redoks dikatakan
setara apabila jumlah zat sebelum dan sesudah reaksi sama, serta
muatan produk adalah sama
5.2 Saran
Praktikan sebaiknya belajar terlebih dahulu sebelum melakukan pretest
agar tidak terjadi pengulangan. Kemudian praktikan di usahakan bisa
menyetarakan persamaan reaksi. sebelum praktikum dilaksanakan praktikan
hendaknya mengecek kondisi alat dalam keadaan baik dan juga menggunakan
alat-alat di labor dengan hati-hati.











Komentar
Posting Komentar